Ingin Langsing, Coba Produk Obat Tradisional (OT) Berkomposisi Daun Jati Belanda! (Tannin/Tanin)

Pelangsing alami yang sering digunakan dalam berbagai produk jamu adalah daun jati belanda. Hal ini dikarenakan daun jati belanda mengandung tanin. Tanin bersifat astringen. Saat kontak dengan membrane mukosa usus halus, senyawa tanin berikatan dengan protein dalam sel epitel mukosa menghasilkan ikatan silang. Ikatan tersebut terbentuk karena tanin mempunyai sejumlah gugus fungsional yang dapat berikatan kuat dengan molekul protein. Terdapat 3 jenis ikatan antara tanin dengan protein sehingga terjadi ikatan yang cukup kuat antara keduanya yaitu ikatan hydrogen, ionic, dan kovalen antara tanin dengan protein. Ikatan silang (protein-tanin) ini membentuk ikatan yang rapat dan kurang permeable sehingga menyebabkan makanan yang akan diabsorpsi oleh usus halus menjadi terhambat. Secara kimia, terdapat 2 jenis tanin yaitu tanin terhidrolisis dan tanin terkondensasi. Keduanya memiliki khasiat astringen, antiinflamatori, antimicrobial, antidiare, dan antioksidan.

PERHATIAN: agar khasiat suatu OT pelangsing manjur, pilihlah OT yang sudah teruji secara klinis (kategori Fitofarmaka), atau kalau tidak ada OT pelangsing kategori Fitofarmaka maka pilihlah kategori Obat Herbal Terstandar (OHT ), atau kalau tidak ada kategori Fitofarmaka ataupun OHT maka pilihlah OT kategori Jamu. Untuk mengetahui lebih jauh mengenai perbedaan OT kategori Fitofarmaka, OHT, dan Jamu, bacalah artikel pemahaman mengenai perbedaan OT kategori Fitofarmaka, OHT, dan Jamu.

Kembali ke tanin, tanin terkondensasi lebih diharapkan daripada tanin terhidrolisis. Hal ini dikarenakan tanin terhidrolisis mudah dihidrolisis menjadi asam galat dan asam galat tersebut membentuk kelat dengan zat besi (Fe). Fe berperan dalam pembentukan sel darah merah.Bila cadangan besi tidak mencukupi dan berlangsung terus-menerus maka pembentukan sel darah merah berkurang dan selanjutnya menurunkan aktivitas tubuh sehingga mudah lelah.

Tanin terkondensasi terjadi karena reaksi polimerisasi (kondensasi) antar flavonoid, sedangkan tanin terhidrolisis terbentuk dari reaksi esterifikasi asam fenolat dan gula (glukosa). Tanin terkondensasi dapat diekstraksi dengan metanol 50-80%.

Tanin terhidrolisis merupakan ikatan ester antara suatu monosakarida, terutama D-glukosa dimana gugus hidroksilnya (seluruh atau sebagian) terikat dengan asam galat, digalat, trigalat, dan asam heksahidroksidifenat. Tanin terhidrolisis dapat diekstraksi dengan air panas atau campuran etanol-air.

Untuk membedakan antara 2 jenis tanin dapat digunakan metode KLT. Penyemprotan dengan FeCl3 pada tanin terhidrolisis menampakkan bercak berwarna biru kehitaman, dan pada tanin terkondensasi menampakkan bercak berwarna hijau kecoklatan.

Sistem KLT:

Fase diam   : silika gel GF254.

Fase gerak  : etil asetat:asam formiat:asam asetat:air (100:11:11:27 v/v).

Deteksi       : UV 254 dan 365 nm dan penyemprotan pereaksi FeCl3.

Struktur Tanin

Baca lebih lanjut:

Bruneton, J., 1999, Pharmacognosie, Phytochimie, Plantes Medicinales, diterjemahkan oleh Hatton, C.K., Lavoisier Publishing, Paris, pp. 229.

Harborne, J.B., 1987, Metode Fitokimia: Penentuan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, Ed. 2, hal. 47-109, diterjemahkan oleh Padmawinata K. dan Sudiro I., Penerbit ITB, Bandung.

Robinson, T., 1995, The Organic Constituent of Higher Plants, Ed. VI, hal. 71-72, diterjemahkan oleh Padmawinata K. dan Sudiro I., Penerbit ITB, Bandung.

About edhisambada

Saat ini menjalani profesi apoteker USD, mempunyai hobi mencari artikel2 yang menarik dan tenis. View all posts by edhisambada

6 responses to “Ingin Langsing, Coba Produk Obat Tradisional (OT) Berkomposisi Daun Jati Belanda! (Tannin/Tanin)

  • maywan hariono

    utk analisis kuantitatif adakah metode yg spesifik untuk masing2 tanin terhidrolisis ato terkondensasi?? ato dihitung tanin total??

    • edhisambada

      Ada yang spesifik pak, untuk tanin terhidrolisis (TH) dan tanin terkondensasi (TD), tapi memang ada kekurangan-kekurangan yang tersirat di masing-masing analisis kuantitatifnya.
      Contoh metode2 nya:
      utk TH bisa digunakan reagen potasium iodat (judul jurnalnya: Determination of Hydrolyzable Tannins (Gallotannins and Ellagitannins) after Reaction with Potassium Iodate–> tapi harus purchase dulu pak, huh!!), metode lainnya Rhodanine assay (untuk anlss kuanttf galotanin-salah satu tipe TH) dan Wilson and Hagerman assay (untuk anlss kuanttf elagitanin-tipe lain dari TH), dan
      utk TD bisa digunakan Butanol-DCI assay ataupun Vanillin-HCl Assay.
      Analisis2 di atas memakai teknik spektrofotometri (untuk lebih detailnya coba ini pak: http://www.ice.org.in/vol4824/Tannin.pdf)

      Kalau ingin memakai teknik HPLC bisa juga, tapi saya baru nemuin metode untuk mengukur TD saja (coba ini pak:http://www.fao.org/ag/agn/jecfa-additives/specs/Monograph1/Additive-454.pdf )

      Kalau untuk analisis tanin total biasanya memakai Folin-Denis Assay dengan beberapa modifikasi (tapi memang kurang spesifik)…hehehe….

      Ok, semoga bisa membantu mencerahkan pak… Fuih…asyik juga tuh metode2…bisa dijadikan juga berbagai judul penelitian…mulai dari optimasi ekstraksi, optimasi metode, validasi metode, dan penetapan kandungan tanin-nya…

      Terimakasih pertanyaannya pak…n_n.

  • gatz

    bagi2 donk jati londhone…..
    gratis yo

  • opik_bidin

    well, klo mau langsing, saranin juga olahraga. Banyak yang udah minum ramuan2 yang banyak, tapi lupa untuk gerak dan beraktivitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: