Kurung…( {[]} )

“Menuang dalam lengkung…sampai batas lesung…

Tubuh yang tadinya satu sekarang terbagi-bagi…”


Analysis Capability Process Analisis Kapabilitas Proses (AKP)

Definisi Kapabilitas Proses adalah kemampuan suatu proses untuk menghasilkan suatu produk/jasa yang sesuai dengan kebutuhan/syarat dari konsumen atau spesifikasi yang diharapkan. Statistical Process Control (SPC) tidak mampu untuk menganalisa secara kuantitaif suatu proses yang sedang berjalan, karena SPC hanya memantau/memonitor proses yang sedang berjalan. Untuk mengetahui suatu proses berjalan secara capable/tidak (menghasilkan produk/jasa yang sesuai spesifikasinya) dipakailah AKP. Dalam AKP dipakai berbagai nilai indeks untuk mengetahui kualitas dari proses yang dihasilkan. Antara lain Cp, Pp, Cpk, Ppk, Cpm, dan PPM.

Dalam SPC hanya dipakai Upper Control Limit (UCL) dan Lower Control Limit (LCL) yaitu menggunakan batasan statistik (biasanya 3 simpangan/sigma) namun dalam AKP selain menggunakan UCL dan LCL dipakai juga Upper Spesification Limit (USL) dan Lower Spesification Limit (LSL). Gambaran dari AKP adalah sebagai berikut:

  1. Jika Limit Spesifikasi di dalam Limit Kontrol maka proses dikatakan incapable
  2. Jika Limit Spesifikasi di luar Limit Kontrol maka proses dikatakan capable.

 

 

Untuk mengolah AKP dapat dipakai program Minitab maupun Excel. Prinsip dalam mengolah AKP adalah menentukan jenis distribusi yang sesuai dengan data yang akan diolah. Jika jenis distribusi untuk mengolah AKP tidak sesuai dengan kenyataan jenis distribusi data yang akan diolah maka hasil dari AKP pun dapat salah dan memungkinkan pengguna salah dalam mengambil keputusan manajemen proses.

Kemungkinan jenis distribusi adalah dua macam yaitu normal dan non normal. Jenis distribusi normal dapat dirubah dengan transformasi Box-Cox maupun Johnson untuk memperbaiki kenormalan data. Jenis distribusi non-normal mempunyai 13 jenis distribusi yaitu lognormal, 3-parameter lognormal, exponential, 2-parameter exponential, Weibull, 3-parameter Weibull, smallest extreme value, largest extreme value, gamma, 3-parameter gamma, logistik, loglogistik, dan, 3-parameter loglogistik. Jika suatu data tidak terdapat salah satu kemungkinan jenis distribusi di atas, maka dapat dipastikan (pengetahuan saat ini) teknik sampling yang digunakan salah, data kurang banyak, dan terdapat variasi yang besar dalam pengambilan data. Dengan program Minitab, jenis distribusi data diketahui dengan cara Individual Distribution Identification.

Setelah diketahui jenis distribusi data, maka dilakukanlah AKP. Output dari AKP yang biasa digunakan untuk menilai suatu kapabilitas proses adalah Cpk. Praktisi Indonesia biasa menggunakan nilai Cpk > 1,33. Namun ada perdebatan yang dilakukan oleh Richard Engel (2010) bahwa nilai Cp dan Cpk merupakan indeks yang jelek untuk menilai suatu proses. Untuk menilai lebih baik suatu proses dibutuhkan Pp dan Ppk dimana nilai Pp dan Ppk ini memperhatikan juga variasi dari data. Perdebatan tersebut pun oleh praktisi industry di luar menghasilkan kesimpulan bahwa untuk hasil AKP harus ditampilkan baik data mengenai Cpk maupun Ppk.

Sekarang kita tinjau pedoman di CPOB bahwa syarat diterimanya suatu proses hanya Cpk. Dapat kita pikirkan bersama ahli statistik dan jika benar bahwa Ppk merupakan indeks yang lebih bagus daripada Cpk dapat kita usulkan bersama jika syarat tersebut juga harus ditambah dengan nilai Ppk.

Sekarang kita bahas secara lebih mendalam perbedaan Cp, Cpk, Pp, Ppk, dan PPM. Cp dan Pp merupakan indeks kapabilitas potensial. Dimana jika nilainya ≥ 1 proses dikatakan potensial capable sehingga masih terdapat kecenderungan proses incapable. Untuk mengetahui proses mutlak capable atau tidak adalah Cpk dan Ppk. Jika Cpk dan Ppk ≥ 1 maka proses dikatakan capable. Praktisi sering menggunakan nilai Cpk dan Ppk ≥ 1,33. Nilai tersebut  merupakan nilai dari 4 sigma. Perbedaan dari indeks C dan P disini adalah jika indeks C hanya memperhatikan sampel data sedangkan indeks P memperhatikan populasi data. Perbedaan lainnya adalah indeks C merupakan indeks jangka pendek sedangkan indeks P merupakan indeks jangka panjang.

Indeks lain adalah Cpm yaitu indeks Taguchi dimana indeks ini lebih ketat daripada indeks Cpk dan Ppk. Indeks ini menyimpulkan bahwa walaupun proses berjalan di luar atau di dalam limit spesifikasi, kemungkinan terjadinya defect masih mungkin.

Parts Per Million defects (PPM) merupakan indeks yang mampu menampilkan jumlah produk yang keluar dari garis spesifikasi. Terdapat PPM > USL, PPM < LSL, dan PPM total. Indeks ini dapat menyediakan informasi bagi pengguna mengenai prediksi kerugian yang diderita.

Berikut tampilan dari hasil AKP dengan program Minitab Portable 16.1.0.0:

 

 

Hmmm…masih bingungkah? Kl masih dan tulisan ini membuat bingung, ayo kita berdiskusi lewat komen di bawah ini…selamat belajar para pemikir dan pejuang muda Indonesia…

 

Pustaka:

Bass, I., 2007, Six Sigma Statistics with Excel and Minitab, Mc Graw Hill, New York, 159-202.

Dan dirangkum dengan bacaan terkait.


Statistical Process Control (SPC)

Tujuan utama dari peningkatan kualitas tidak hanya untuk menyediakan kualitas produk yang baik tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kepuasan konsumen. Pada dasarnya, peningkatan produktivitas dan kepuasan konsumen harus beriringan agar memberikan perusahaan biaya yang murah dalam peningkatan kualitas tersebut. SPC adalah teknik yang memampukan pengendali kualitas untuk memonitor, menganalisis, memprediksikan, mengontrol, dan meningkatkan proses produksi melalui control charts. Control charts merupakan alat dalam menganalisis variasi dari proses produksi. Biasanya plot control charts terdiri dari garis-garis yang menunjukkan Under Control Limit (UCL), Center Line (CL), Lower Control Limit (LCL), serta mean sampel.

Gambar 1. Control chart

Control limit/garis kontrol adalah garis batas yang menggambarkan kemampuan berdasarkan pengalaman dan kemampuan teknik. Limit spesifikasi adalah batas-batas spesifikasi yang ditentukan oleh konsumen (dalam/luar) atau target yang harus dipernuhi. Walaupun proses menunjukkan keadaan terkontrol (di dalam garis kontrol) harus diperhatikan juga apakah proses sesuai dengan limit spesifikasi. Manfaat digunakannya garis control dalam SPC adalah untuk mengidentifikasi gejala penyimpangan suatu proses.

Garis kontrol dalam control chart merupakan alat yang efektif untuk mendeteksi penyebab khusus dari suatu variasi. Jika terdapat poin-poin yang berada di luar garis control, maka akan diindikasikan bahwa proses berada di luar control dan tindakan koreksi harus dilakukan.

 

Gambar 2. Contoh control chart yang out of control

 

Control charts variabel

Monitor control charts tidak hanya dilihat dari mean sampel tetapi juga variabiltas dari karakteristik sampel (parameter). Ketika parameter tersebut diukur sebagai data variable (panjang, tinggi, diameter, dan lain-lain), chart Mean ( ), Range (R), dan Standar Deviasi (S) biasa digunakan.

  1. Chart  dan R

Charts-R digunakan untuk mengetahui bahwa proses stabil atau tidak. Chart  dan R digunakan bersamaan untuk memonitor baik mean sampel maupun variasi di dalam sampel yang terdistribusi. Jika chart  dan R menunjukkan semua observasi data berada di dalam garis kontrol dan variasinya menunjukkan plot yang random, maka dapat disimpulkan bahwa proses berjalan stabil dan dibawah kendali.

  1. Chart  dan S

Chart S digunakan untuk menunjukkan jika di dalam proses terdapat level yang signifikan pada variabilitas proses. Variasi yang besar pada plot data mengindikasikan proses bersifat tidak stabil.

  1. Moving Range

Ketika data kontinyu individual (subgroup), chart moving range dapat digunakan untuk memonitor proses produksi.

Control charts tidak menunjukkan berapa banyak dari produk produksi yang berada dalam spesifikasi tetapi lebih pada bagaimana suatu proses produksi berjalan, berapa banyak variabilitas yang ditunjukkan, dan apakah proses produksi tersebut bersifat stabil. Jumlah perkiraan suatu produk defect di dalam proses produksi dapat diukur dengan suatu metode yang disebut Analisis Kapabilitas Proses (AKP).

 

Pustaka:

Bass, I., 2007, Six Sigma Statistics with Excel and Minitab, The McGraw-Hill Companies, Inc., Amerika, 145-150.

Dan dirangkum dengan bacaan terkait.


Bahan Tumbuhan (Pegagan) untuk Tukak Lambung (Gastric Ulcer)

Centellae Asiaticae Herba (herba pegagan)

Gambar 1. Pegagan

Spesies: Centellae asiatica (L.) Urban

Centellae Asiaticae Herba adalah herba tumbuhan Centellae asiatica (L.) Urban yang telah dikeringkan.

Habitat:

Tumbuh baik di Indonesia terutama di daerah beriklim tropis baik di dataran rendah sampai ketinggian 2500 m dpl. Tumbuh di tempat yang terbuka atau sedikit ternaung, pada tanah yang lembab dan subur seperti pematang sawah,padang rumput, tepi parit, dan di tepi jalan.

Kandungan kimia:

Asam triterpen : asam asiatat dan asam madekasat (komponen utama), asam terminolat. Glikosida turunan triterpen ester (pseudosaponin, tidak kurang dari 2 %): asiatikosida (asiatikosida A dan B), madekasosida, indosentelosida, brahmosida, brahminosida, tankunisida, isotankunisida, kuersetin, kaempferol, dan stigmasterol.

Kegunaan: membantu menyembuhkan tukak lambung.

Mekanisme penyembuhan:

Herba pegagan dapat menstimulasi pembentukan pembuluh darah (angiogenesis) dan regenerasi sel mukosal pada tahap penyembuhan tukak lambung, memfasilitasi proliferasi epitel dan menekan aktifitas mieloperoksidase yang berperan dalam pembentukan tukak lambung.

Kontraindikasi:

Alergi terhadap tanaman ini. Jangan digunakan pada anak-anak, wanita hamil, dan hindari penggunaan berlebihan pada wanita yang menyusui.

Interaksi obat:

Antiplatelet (aspirin) karena memiliki aktivitas anti agregasi platelet. Obat antidiabetes karena menurunkan aktivitas obat tersebut. Efedrin, teofilin, atropine, dan kodein.

Penyiapan dan dosis:

Dosis harian: 0,6 gram serbuk kering 3 kali sehari. Dosis tunggal normal adalah 0,33-0,68 g. Sebanyak 15 g serbuk daun diseduh dengan ½ gelas air matang panas, kemudian disaring. Air saringan diminum.

Penyimpanan:

Simpan di tempat yang sejuk dan kering, di dalam wadah tertutup rapat, jauh dari jangkauan anak-anak.

Bacaan lebih lanjut: BPOM, 2010, Acuan Sediaan Herbal, BPOM RI, Jakarta 87-88.


Bioteknologi: Kesehatan, Bahan Bakar, dan Makanan untuk Dunia

Secara sederhana, bioteknologi adalah teknologi berdasarkan biologi. Bioteknologi mencakup peranan seluler dan proses biomolekuler untuk mengembangkan teknologi dan produk yang dapat meningkatkan derajad kehidupan manusia. Kita telah menggunakan proses biomolekuler dari mikroorganisme lebih dari 6000 tahun untuk membuat produk makanan yang berguna, seperti roti, keju dan lain sebagainya.

Bioteknologi modern telah menghasilkan teknologi dan produk untuk mengatasi penyakit-penyakit, mengurangi polusi karena adanya pergantian jenis bahan bakar yang ramah lingkungan, dan menyediakan makanan melalui bioteknologi pertanian.

Saat ini, telah terdapat lebih dari 250 produk bioteknologi pemelihara kesehatan maupun vaksin yang digunakan untuk pasien. Lebih dari 50 biorefineri (pemurni bahan bakar berbasis biologi) yang dibangun di sepanjang Amerika Utara untuk menguji dan memurnikan produk bioteknologi menjadi bahan bakar biologi (biofuel) dan bahan-bahan kimia dari biomassa yang dapat terbaharukan sehingga dapat menurunkan gas emisi industri. Lebih dari 13,3 juta petani seluruh dunia telah menggunakan bioteknologi pertanian untuk meningkatkan jumlah produksi, mencegah kerusakan dari hama, dan mengurangi dampak pertanian terhadap lingkungan.

Perkembangan saat ini dalam bioteknologi sangat membantu kita, berikut perkembangannya:

Memberikan Kesehatan untuk Dunia

Peranan bioteknologi dalam membantu “menyembuhkan dunia” adalah:

  1. Mengurangi laju penyakit infeksi;
  2. Menciptakan pendeteksi penyakit yang lebih presisi; dan
  3. Menghasilkan produk bioteknologi yang berguna untuk melawan penyakit.

Menyediakan Bahan Bakar untuk Dunia

Bioteknologi menggunakan proses biologis seperti fermentasi dan biokatalis (enzim, jamur, mikroba lain) untuk proses produksi bahan bakar. Peranan bioteknologi dalam menyediakan bahan bakar untuk dunia adalah:

  1. Meningkatkan efisiensi proses produksi untuk menghemat hingga 50% ataupun lebih dalam biaya operasional;
  2. Menggunakan biofuel berarti mengurangi emisi gas hingga 52% ataupun lebih; dan
  3. Mengurangi limbah yang dihasilkan.

Memberi Makanan untuk Dunia

Bioteknologi telah terbukti dapat membuat tanaman pangan resisten terhadap hama sehingga kebutuhan akan pestisida dapat dikurangi. Dengan adanya pengurangan kebutuhan pestisida tersebut diharapkan akan dapat menciptakan pertanian yang lebih ramah lingkungan. Peranan bioteknologi dalam member makanan untuk dunia adalah:

  1. Menghasilkan jumlah produksi pangan yang lebih besar;
  2. Mengurangi kebutuhan senyawa-senyawa kimia pertanian; dan
  3. Mengembangkan produk petanian yang dapat menghasilkan senyawa kimia yang dibutuhkan tubuh manusia (misal: golden rice).

Isu Mengenai Bakteri, Antibiotik, dan Sifat Resisten Bakteri

Penemuan dan pengembangan beberapa antibiotik antara tahun 1930-an sampai dengan 1960-an telah berperan secara efektif dalam memberantas penyakit mematikan yang disebabkan oleh bakteri. Salah satu contohnya adalah pada masa perang dunia II, banyak prajurit yang terserang Streptococcus pneumonia. Akan tetapi setelah ditemukannya dan digunakannya penisilin-G, jumlah kematian prajurit akibat infeksi bakteri tersebut menurun. Setelah adanya bukti tentang resistensi penisilin-G, maka dikembangkan antibiotik generasi kedua, misalnya metisilin, cepalotin, dan imipenem. Tahun 1961, ditemukan adanya resistensi dari metisilin (strain S.aureus). Selanjutnya ditemukan juga adanya resistensi bakteri-bakteri terhadap antibiotik yang telah dipasarkan. Bertahun-tahun pengamatan, maka didapatkan pernyataan bahwa bakteri-bakteri dapat mengembangkan resistensinya terhadap hampir semua antibiotik.

Tabel 1 menggambarkan kepada kita akan adanya masalah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Dari tabel tersebut, dapat diamati bahwa sebagian besar antibiotik telah ditemukan adanya resistensi dalam selang waktu yang pendek. Tetapi dalam kasus vancomisin dan eritromisin, barulah sekitar 3 dekade setelah dipasarkannya antibiotik tersebut, ditemukan adanya resistensinya.

No. Antibiotik Inti Struktur Tahun dipasarkan Tahun dimana resistensi teramati
1 Prontosil Sulfonamida 1935 1940-an
2 Penisilin G Beta laktam 1943 1940-an
3 Streptomisin Aminoglikosida 1943 1959
4 Kloramfenikol Fenilpropanoid/amfenikol 1947 1959
5 Tetrasiklin Poliketida 1948 1953
6 Eritromisin Makrolida 1952 1982
7 Vancomisin Glikopeptida 1956 1984
8 Polimiksin Polipeptida 1960-an 1976
9 Metisilin Beta laktam 1960 1961
10 Ciprofloksasin Quinolon 1987 1988
11 Cepalotin Cepalosporin 1964 1965
12 Rifampisin Rifamisin 1967 1968
13 Clindamisin Linkosamida 1969 1979
14 Imipenem Carbapenem 1985 1986
15 Quinupristin/dalfopristin Streptogramin 1999 1999
16 Linezolid Oxazolidinon 2000 2001
17 Daptomisin Lipopeptida 2003 2005

Berikut merupakan hal-hal yang menyebabkan bakteri dapat menjadi resisten terhadap antibiotik:

  1. Overekspresi dari enzim yang dapat memodifikasi antibiotic, supaya antibiotik inaktif.
  2. Mutasi dari target site bakteri yang memtolerir target site mempertahankan fungsinya.
  3. Mengeksport antibiotic ke luar media sel bakteri melalui mekanisme pompa efflux multidrug-resistant (MDR), atau menghilangkan porin channels yang mengakibatkan permeabilitas dari bakteri yang rendah terhadap antibiotic  (Gonzales, R.D, Schreckenberger P.C, Graham M.B, Kelkar S., DenBesten K., dan Quinn J.P., 2001; Kaatz G.W, dan Seo S.M, 1997; dan Fisher, J.F, Meroueh, S.O, dan Mobashery, S., 2005).

 

Sekian dulu mengenai isu ini, kalau ada kesempatan akan saya lanjutkan mengenai pemecahan masalah terhadap resistensi antiobiotik yang sangat potensial untuk dikembangkan.

 

PUSTAKA:

Gonzales, R.D, Schreckenberger P.C, Graham M.B, Kelkar S., DenBesten K., dan Quinn J.P., 2001, Infections Due to Vancomycin-Resistant Enterococcus faecium Resistant to Linezolid, Lancet 357(9263), 1179.

Kaatz G.W, dan Seo S.M, 1997, Mechanisms of fluoroquinolone resistance in genetically related strains of Staphylococcus aureus. Antimicrob. Agents Chemother, 41(12), 2733–2737.

Fisher, J.F, Meroueh, S.O, dan Mobashery, S., 2005, Bacterial Resistance to B-Lactam Antibiotics Compelling Opportunity, Chem. Rev., 105(2), 395–424.


Daun Stevia Pengganti Gula: Solusi Pemanis Penderita Diabetes

Bagian tanaman stevia yang digunakan untuk pemanis adalah daunnya. Daun stevia mengandung senyawa golongan glikosida steviol selain itu juga terdapat senyawa lain seperti saponin, sterol, tanin, dan karotenoid. Selain itu stevia mengandung protein, serat, besi, kalsium, kalium, senyawa flavonoid (fenolik) vitamin C, dan vitamin A.

Gambar 1. Stevia (http://www.asia.ru/en/Catalog/?page=3&category_id=14586)

Glikosida steviol merupakan suatu glikosida yang terdiri dari 2 bagian, yakni gula dan aglikon berupa diterpen. Glikosida ini termasuk O-glikosida karena gula terikat pada aglikon melalui ikatan C-O.

Glikosida steviol yang menyebabkan rasa manis dari daun stevia adalah steviosida. Pada daun stevia terkandung steviosida sebanyak 3-10% dari bobot keringnya, yang memiliki tingkat kemanisan 300 kali dari larutan 0,4% sukrosa.

Steviosida merupakan bahan pemanis alami yang tidak berkalori sehingga tidak menaikkan kadar gula dalam darah dan tidak memungkinkan pertumbuhan bakteri dan ragi pada produk pangan yang menggunakan stevia sebagai pemanis. Steviosida dapat mempelambat pembentukan plak dan karies gigi serta tidak toksik.

Gambar 2. Struktur steviosida (http://www.lni.unipi.it/stevia/stevia/stepadog.htm)

Mekanisme stevia tidak menaikkan kadar gula dalam darah adalah sebagai berikut dalam tubuh steviosida akan mengalami hidrolisis di usus halus menjadi steviolbiosida yang dengan segera akan diubah menjadi steviol. Steviol yang terbentuk akan meningkatkan kerja insulin di dalam tubuh sehingga kadar gula dalam darah akan menurun.

Daun stevia dapat langsung digunakan sebagai pemanis. Cara untuk memanfaatkannya yaitu dengan dikeringkan. Proses pengeringannya tidak memerlukan panas yang tinggi. Untuk skala rumah tangga, cukup dengan mengeringkannya di bawah sinar matahari selama kurang lebih 12 jam, mengeringkannya lebih dari itu akan menurunkan kadar steviosidanya. Atau dengan mengeringkan daun stevia di dalam microwave selama 2 menit, kemudian diserbukkan. Serbuk ini dapat langsung dikonsumsi sebagai pemanis makanan. Pemanis stevia juga dapat dikonsumsi dalam bentuk cair, yakni dengan merendamnya selama 24 jam kemudian disimpan di dalam kulkas. Perbandingan (1:4) air dengan daun stevia. Kelarutan steviosida di dalam air pada suhu 200C minimal sebanyak 40% (b/b). Peningkatan jumlah steviosida yang tersari akan semakin meningkat dengan meningkatnya suhu penyarian. Yang harus tetap diperhatikan adalah faktor keamanannya. Jangan menggunakan stevia secara langsung apabila daun terpapar pestisida atau bahan kimia lain yang berbahaya bagi kesehatan. Oleh karena itu sangat dianjurkan untuk budidaya stevia dengan cara pertanian organik.

Baca lebih lanjut:

http://ditjenbun.deptan.go.id/budtansim/index.php?option=com_content&view=article&id=52:mengenal-stevia-sweat-honey-leaf-sebagai-sumber-pemanis&catid=8:inventaris-berita&Itemid=30

Geuns, J.M.C., 2003, Molecules of Interest Stevioside, http://www.steviainfo.com/research_articles

Yatka, R.J., 1991, Method of Controlling Release of Stevioside in Chewing Gum and Gum Produced Thereby, http://www.wipo.int/pctdb/en/wo.jsp


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.